Showing posts with label Reviews. Show all posts
Showing posts with label Reviews. Show all posts

Saturday, October 4, 2008

Laskar Pelangi The Movie (2008)

tadinya gua mau menyudahi saja kebiasaan tulis-menulis blog. tapi setelah menonton Laskar Pelangi, rasanya gak bener banget kalo film macam itu gak dituangkan ke dalam sebuah tulisan review. karena itulah sekarang blog gua ini memiliki entry terbaru.

Laskar Pelangi diangkat dari sebuah novel best-seller karya Andrea Hirata, dan berkisah tentang perjuangan, kesempatan, dan pengalaman kesepuluh anak Belitong dalam perjalanan mereka menggapai cita-cita, dengan segala keterbatasan yang ada.

dalam versi film yang disutradarai Riri Riza ini, cerita lebih difokuskan pada ketiga anggota utama laskar, yakni Ikal, Lintang, dan Mahar, dengan peran penting Bu Mus dan Pak Harfan yang menaungi mereka.

secara keseluruhan, Laskar Pelangi merupakan sebuah film yang sangat indah dan memorable, oleh akting natural para aktor dan aktrisnya, scoring yang mendukung suasana, dan sinematografi yang apik dan sangat menonjolkan sisi keindahan pulau Belitong yang ironis bila dibandingkan dengan kualitas hidup penduduknya. tak jarang mata para penontonnya dibuat berkaca-kaca di beberapa bagian film, termasuk yang paling penting, pada saat film diselesaikan.

namun mata para penonton sepertinya tidak cukup hanya dimanjakan oleh segala keindahan yang ditawarkan. dari segi alur cerita, di pertengahan film terasa agak membosankan dengan lambatnya alur dan beberapa elemen yang sepertinya tidak perlu dimasukkan. sebagai contoh, adegan romansa tokoh Ikal dan Aling yang terlalu imajinatif dan berlebihan, sehingga sedikit mengganggu esensi keseluruhan film. juga kisah mengenai perdukunan yang tidak penting dan cenderung mengganggu kontinuitas cerita.

tak hanya itu, saking 'indah'nya film ini, menonton Laskar Pelangi terkadang terasa seperti menonton tayangan Discovery Channel atau National Geographic, dengan montage panorama indah pulau Belitung dari segala sisi yang terlalu dibombardir dan cenderung repetitif, sehingga beberapa gambar-gambar indah tersebut seakan hanya sebagai pelengkap belaka.

meskipun demikian, perlu dicatat bahwa Laskar Pelangi merupakan film yang paling 'penting', bila dibandingkan dengan para kompetitornya yang dirilis bersamaan pada saat libur Lebaran, dan merupakan salah satu film Indonesia yang "must-watch". salut terhadap perjuangan dan kerja keras duet Riri Riza - Mira Lesmana beserta segenap cast and crew.

sebagai penutup, Laskar pelangi mungkin bukanlah karya terbaik, spektakular, ataupun masterpiece Riri Riza. namun film ini telah berhasil menyampaikan pesannya dengan indah dan gemilang, dan bahkan secara tak langsung film ini turut mengangkat pulau Belitung menjadi sebuah destinasi wisata.

Pemain: Cut Mini, Ikranagara, Slamet Rahardjo, Tora Sudiro
Penulis: Salman Aristo, Riri Riza, Mira Lesmana
Sutradara: Riri Riza
Produksi: Miles Films & Mizan Production
Negara: Indonesia

read more...

Saturday, May 31, 2008

A Part-Time Lover And A Full-Time Friend

I was quite pissed when 21 cineplex keep pending the release of this film. I almost bought the pirated DVD as I was running out of my patience. but after all, the long awaiting was all worth-it.

however, it's such a shame that this film is not appreciated much in Indonesia, as it was only played in several cinemas and the session times are very limited. thankfully I got a chance to see it.

this Oscar-winning comedy tells a story about a knocked-up teenage girl named Juno MacGuff in facing and overcoming her pregnancy and the situation around her, until she is managed to pick a decision in a mature and acceptable way.

probably the storyline sounds cheesy and we can find that kind of story in any Indonesian soap opera. however, the judgment should ends there when you see the actual film, because the treatment and the execution of this film is different than those tacky local products.

the first noticeable good thing about this film is the memorable character Juno MacGuff herself. two thumbs up for Ellen Page, who has played this character marvelously, until nominated into the Oscar for the best leading actress category. not only that, several other leads are also played pretty well by Michael Cera, Jennifer Garner, and Jason Bateman.

after that, the script has successfully brought this film into winning an Oscar and several other prestigious awards. it proves the smart narration and the witty dialogs presented by the script worked very well.

also, don't forget the soundtrack that has wonderfully helped in setting up the tone and mood of this film. you should buy the album, and just by listening to the whole tracks, Juno will stick into your mind forever.

overall, this film is worth-watching several times, and obviously I'm going to do that. sorry for the bad presentation of this review, because I really don't know what else to describe.
catchy and sweet. those are two simple words to describe this film and also to close this review.

Cast: Ellen Page, Michael Cera, Jennifer Garner, Jason Bateman
Director: Jason Reitman
Writer: Diablo Cody
Country: USA
Runtime: 96 min.

read more...

Thursday, April 24, 2008

A Costly Journey Through Indonesia

the original tagline should be "A Flavourful Journey Through Indonesia", but probably "costly" is more suitable to describe Tesate, a new food place in Plaza Senayan, Jakarta, that serves authentic traditional and modern Indonesian cuisine in a whole new sense of style.

located just one level below the Cinema XXI area, from the front side, Tesate looks just like a small coffee shop. but after walking across a small hallway besides the main entrance, we can find a 'hidden' restaurant lounge. the hallway itself is very sophisticated, with a blue lighting and a catwalk feeling.


entering the restaurant area, we can clearly see the mixture between modern and traditional theme, brought by the restaurant. the minimalist look, mixed with the traditional javanese ornaments, like the use of the original javanese letters, really gives the idea of what the food is about. the form of the menu also expresses the same feeling, with the use of the traditional "Kipas Abang Sate" shape as the design.

looking at the prices shown in the menu, some of us might get shocked by the fact that some of the foods can be managed outside for a lot more reasonable price. for example, "Nasi Pecel Madiun" is priced for IDR 65,000 (probably they go to Madion for real to get the food, and the price is more for the transportation cost), while "Kunyit Asam" can be enjoyed for IDR 22,000. however, when you entered the spot, you should already have committed to yourself that here, you are not only buying the food and the taste, but also the atmosphere and the good hospitality.

for the taste of the food, I can say that it isn't really much that interesting. it's enjoyable, but not as impressive as how it looks. on the other hand, the packaging and the placement is quite exquisite. I ordered "Nasi Goreng Kampung" for IDR 39,000, and it comes with a long wooden tray, displaying 3 different plates; one big plate for the fried rice (but not big portion), and two small plates for gado-gado (Indonesian Salad with peanut sauce) and crackers. special note for gado-gado, the taste is quite remarkable.

the colourful and flavourful journey ended when the bill came. like I said before, the price given will take you back to the place where you came from. I could still enjoy the leftover of "High Mountain Green Tea" that I ordered for the drink, which is very strong in taste and smell, which also perfectly symbolized my bitterness when I had to pull out my wallet. for the complimentary, some ginger candies were given along with my change. after all, the journey was worth the price, but obviously I can't do this too often, which means I'm not going back to this place for quite a long time.

read more...

Wednesday, April 9, 2008

Black is (Not) So Rumptious

setelah banyak sekali melihat review-review yang ada mengenai Miitem, baik itu dari berbagai acara kuliner di televisi hingga blog di internet, pada akhirnya gue berkesempatan mengunjungi restoran yang (katanya) makanannya unik tersebut.

dari gambarnya aja udah ketahuan banget kan di mana uniknya? tapi hati-hati, penampilan bisa menipu. baca dulu entry kali ini hingga selesai.

kebetulan outlet Miitem yang gue kunjungi adalah cabang yang berada di lantai teratas Plaza Indonesia, dan gue gak sendirian, melainkan bersama salah satu teman.

suasana siang itu cukup lengang karena kebetulan jam makan siang baru saja lewat. dengan dihiasi penerangan lampu temaram, sepertinya outlet Miitem plaza Indonesia ini berusaha menciptakan suasana relaks dan romantis. namun sayangnya, sepertinya hal itu kurang berhasil oleh karena suasana di luar yang ramai, plus lampu terang benderang koridor Plaza Indonesia yang dengan mudahnya menembus masuk ke dalam. juga, sekumpulan tante sasak yang mungkin sedang arisan cukup mengganggu ketenangan kami berdua saat itu dengan celotehan dan canda riangnya.

cukup dengan tempatnya, ternyata Miitem tidak hanya menjual mie berwarna hitam, melainkan warna pink dan putih juga turut menjadi pilihan, dengan bahan dasar yang berbeda pula. juga, ternyata tidak hanya mie yang berwarna hitam di sini, tapi pangsit dan nasi goreng pun turut dibuat hitam. setelah berkutat beberapa lama dengan penuh kebingungan serta bertanya sana-sini, akhirnya kita berdua memutuskan untuk memesan cwie miitem dan pasta berwarna pink (maaf lupa nama aslinya), dengan hot green tea dan lemongrass (ini juga kurang akurat karena lagi-lagi teman gue lupa menunya sendiri, maklum begitu sampai di sana yang terus ia lakukan adalah mengeluarkan kameranya dan jepret sana-sini) sebagai minuman.

untuk ukuran rasa, gue dan teman gue setuju kalo rasa miitem biasa saja, bahkan cenderung berminyak oleh karena bahan dasar tinta cumi yang dipakai. juga, porsinya kurang begitu sepadan dengan harga. hal ini bisa dimaklumi, oleh karena lokasi outletnya yang berada di salah satu pusat perbelanjaan kelas atas di jakarta. jadi semangkuk mie dengan harga Rp. 30 ribu sepertinya sah-sah saja.

akhir kata, dengan harga yang tidak biasa, sepertinya Miitem masih perlu melakukan pembenahan di sana-sini, terutama soal citarasa. meskipun demikian, gue cukup salut dengan keberanian konsep dan pilihan menu-menu yang cukup kreatif.

read more...

Wednesday, October 10, 2007

The Kingdom

honestly, the only thing that attracted me to this film when I first saw its promotional poster was the involvement of Jennifer Garner as one of the leads. I'm a fan of Jennifer Garner, especially with his role as agent Sydney Bristow in TV Series Alias, one of my favourites. however, after seeing it's long trailer, my impression to this film dropped down several levels, because I was not quite engaged by what I saw, especially after knowing that Garner has quite a little part in this film.

clearly, the phrase "don't judge a book by it's cover" does explain a lot in every situation, including this one. watching this film is just like an unforgettable orgasmic experience. I first compared this as 2007's Blood Diamond, but looks like this one is quite a hit; both of them are good in different ways.

The Kingdom covers an investigation of the bombing in Riyadh by an FBI team, consisting of Ronald Fleury (Jamie Foxx), Janet Mayes (Jennifer Garner), Adam Leavitt (Jason Bateman), and Grant Sykes (Chris Cooper). The whole film itself is fictional, but it is actually based on the true even.

overall, I love how this film represents itself. I love how the ending completes the whole journey by its kickin-ass' quotes. I love how Peter Berg set and moderated all of his crews and casts for the realistic values of the film. however, probably the overusing of the active and dynamic hand-held camera is not quite a wise idea. it's good for gaining such tense, but most of all, during the movie I felt quite dizzy and sick because of the quick movements of the camera, and not even once in that film the shot is steady and calm.

bringing up terrorism and jihad as a theme, this film really shows us the ignorance of how humanity involves in our lives these days. ok, probably that sounds a bit cheesy, but at least that shows how I feel after seeing the film. Humanity can easily be erased by a lot of thing.

the various Islamic terms used in this film might be a problem in third world countries. society won't easily accept this film because of the sensitive issue. especially in my country, where most of the civilians are Moslem, a lot of censorship might occur, and various protest acts might also happen. fortunately, it seems impossible that this film is going to be banned in Indonesia, as the trailer has been shown in the cinemas across the nation.

Cast: Jamie Fox, Chris Cooper, Jennifer Garner, Jason Bateman
Directed by: Peter Berg

Written by:
Matthew Michael Carnahan
Country: US
Runtime: 110 min.

read more...

Wednesday, August 22, 2007

Selamanya (2007)

jangan kaget dengan nama production house yang menaungi film ini. gue sendiri sempet underestimate film ini karena melihat nama penulis skenarionya, Sekar Ayu Asmara yang melahirkan film sekelas Pesan Dari Neraka, dan juga produser film ini, Raam Punjabi, yang notabene adalah penjahat kelas nasional karena telah menghancurkan bangsa ini dengan memberikan tontonan televisi murahan dan tidak mendidik, di bawah bendera Multi Vision yang benar-benar tidak bervisi. namun setelah gue melihat reviewnya di website kebanggaan kita bersama, sinema-indonesia.com, yang dengan beraninya memberikan tiga bintang untuk rating film ini, gue jadi berpikiran lain lagi, oleh karena situs tersebut kebanyakan mencerca film-film indonesia, dan yang diberi bintang bisa dihitung dengan jari.

ternyata benar dugaan gue. bukan sekedar sugesti dari situs tersebut, film ini memang memberikan sesuatu yang lain, meskipun ceritanya cukup corny dan akting beberapa pemainnya betul-betul sinetron-ish dan tidak bisa dimaafkan begitu aja. lihat aja si Dimas Seto itu. bisa apa sih dia di film ini? sepertinya sinetron udah menjadi tempat yang terbaik buat dia.

kalau mau jujur, sebetulnya plot cerita Selamanya hanyalah sebuah perpaduan sempurna dari film ternista Heart, dan slogan "Jauhi Narkoba!" (di Cianjur, bahasa Inggris slogan ini adalah "Hide Drug!"). namun yang membuat film ini lain dan terangkat derajatnya adalah kualitas penggarapannya yang rapi dan catchy, serta akting Julie Estelle dan Masayu yang sangat mencuri perhatian dan patut diacungi jempol.

sejatinya, Selamanya bercerita tentang sepasang kekasih, Aristha dan Bara yang telah terpisah lama, dan kemudian dipertemukan kembali dalam keadaan masing-masing yang bertolak belakang. Aristha adalah pecandu narkoba akut yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya, sementara Bara adalah mantan pecandu yang kini bekerja sebagai konsultan di salah satu panti rehabilitasi narkoba dan sedang mempersiapkan pernikahannya dengan kekasih barunya.

mungkin sebagian dari kita setelah membaca premise tersebut akan berpikir, film ini jadinya terkesan menggurui dan cengeng. jangan salah dulu, karena setelah menonton, pendapat gue justru berbeda 180 derajat; film ini memang menggurui dengan 'slogan'nya tersebut, dan cengeng dengan segala air mata dan teriak-teriak umpatan Aristha, namun semua itu dikemas dengan sangat menarik sehingga elemen-elemen tersebut dapat dilupakan. untuk ini, sang sutradara, Ody C. Harahap, beserta tim kreatifnya patut berbangga. sinematografi yang ciamik dan editing yang oke banget (namun sayangnya di beberapa bagian terlihat putus-sambung, kemungkinan karena tindakan pemotongan oleh badan sensor kurang ajar itu) menjadi titik terang film ini.

gak hanya itu, kualitas akting Julie Estelle pun betul-betul mengalami penigkatan drastis di film ini. teriakan-teriakan umpatannya terasa begitu nyata dan gak dibuat-buat. beda banget dengan teriakan "babi loe!" milik Luna Maya di Pesan Dari Surga. demikian halnya dengan Masayu, aksinya sebagai penari striptease dengan berbagai kostum merupakan hal yang langka dan tidak dapat kita simak melalui layar kaca.

namun sayangnya, di film ini masih terdapat beberapa hal yang cukup mengganjal dan terkesan gak mungkin banget, seperti bagaimana mungkin dengan pekerjaan Bara sebagai konsultan narkoba dan kakaknya yang penari, mereka berdua mampu membeli rumah mewah dengan kolam renang? (mungkin rumah itu peninggalan orang tua mereka? atau sang art director tidak mampu menemukan lokasi yang pas, selain stok alamat rumah yang diberikan Raam yang biasa dipakai di sinetron-sinetronnya?), dan juga mengapa Bara yang awalnya hanya pecandu malah dipenjara, sementara Aristha yang pengedar dan seharusnya mendapatkan hukuman lebih berat malah hanya melewatkan beberapa jam saja di kantor polisi? oh well, kesan sinetron memang masih gak bisa lepas juga dari film ini. damn you, Raam!

kesimpulannya, film ini memang bukan film Indonesia terbaik untuk tahun ini, namun sepertinya film ini lebih patut dilirik ketimbang Bukan Beha Biasa (atau kami menyebutnya Bella Bagusan Bugil), dan film-film menyedihkan lainnya. at least film ini masih patut untuk ditonton.

Pemain: Julie Estelle, Dimas Seto, Masayu Anastasia
Penulis: Sekar Ayu Asmara
Sutradara: Ody C. Harahap
Produksi: Multi Vision Pictures
Negara: Indonesia
Durasi: 90 menit

read more...

Saturday, August 18, 2007

No One Wants to be Alone!

akhirnya niat gue selama ini buat nonton midnight di Jakarta kesampaian juga. gak tanggung-tanggung, film yang menjadi tontonan adalah film horror! tadinya gue bareng teman-teman gue berniat nonton double feature Alone + Shutter yang dihadiri dua orang sutradaranya dan bintang utama Alone. namun apa daya, teman-teman gue semuanya tipe last-minute, jadinya untuk double feature tersebut kehabisan tiket, dan kita hanya bisa mendapatkan sesi pemutaran kedua Alone malam itu, yakni pukul 10.45. cukup kecewa sih, mengingat pemutaran double feature dilakukan di auditorium terbesar Blitz, sementara sesi yang kita datangi hanya berada di auditorium regular.

Alone mengisahkan tentang sepasang saudara kembar siam, Pim dan Ploy yang memiliki sifat yang bertolak belakang. sayangnya kebersamaan mereka harus berakhir di atas meja operasi, lantaran salah satu dari mereka tidak selamat dari operasi pemisahan. bisa ditebak, selanjutnya teror-teror menghantui kembar satunya, seakan tidak rela mereka dipisahkan begitu saja.

jika ditilik dari keseluruhan plot, film ini sebetulnya cukup unik dan cenderung berani dalam memainkan alur cerita. twist yang disajikan pun sangatlah pintar. namun sayangnya, hal tersebut yang seharusnya menjadi kekuatan terbesar dalam film ini malah seakan menjadi kelemahan terbesar, lantaran sudah pasti ekspektasi sebagian penonton setelah menonton film ini akan menurun.

sudah pasti sebuah film horror belum afdol kalau gak ada momen-momen terkejutnya. begitu pula dalam film ini, tiga perempat awal film ini pun dipenuhi oleh berbagai shocking scenes, sampai-sampai seisi penonton gak henti-hentinya berteriak. namun sayangnya sebagian besar dari momen-momen tersebut seakan bisa ditebak, mengurangi ketegangan, namun masih bisa dimaafkan dengan pengaturan jump cuts dan musiknya. juga, kalau kita membuka mata kita lebar-lebar dalam menonton keseluruhan film ini tanpa sedetikpun mengedipkan mata atau bersembunyi ketakutan, sebetulnya plot twist yang disajikan di film ini bisa ditebak dengan mudahnya.

secara keseluruhan, untuk ukuran film horror film ini cukup mengecewakan oleh karena semua keterkejutan yang dihasilkan pada akhirnya menjadi tidak berkesan. belum lagi dengan cara penayangan Blitz yang seringkali mempermainkan penglihatan para penontonnya dengan menarik-narik film ke atas berulang kali untuk menayangkan teks bahasa Indonesianya , yang makin menambah kekecewaan kami para penonton. tapi jika dibandingkan dengan film-film horror cupu buatan dalam negeri, film ini jaaauhhh lebih nendang. lihat saja sendiri keseluruhan aspek film ini, mulai dari sinematografi yang apik, desain produksi yang rapi, permainan genre, hingga plot twist yang ditawarkan, semua itu sepertinya bisa dijadikan poin-poin kuat untuk memaafkan kedataran kata 'horror' di film ini.

kalimat "the most anticipated Thai horror movie of the year" yang terpampang di posternya mungkin terdengar agak klise dan rancu, namun film ini betul-betul layak ditonton sebagai bukti kepiawaian sineas film Thailand dan bahan pelajaran para sineas film Indonesia di masa mendatang.

Cast: Marsha Wattanapanich
Directed by: Banjong Pisanthanakun & Parkpoom Wongpoom
Country: Thailand
Runtime: 95 min.

read more...

Sunday, August 12, 2007

The Photograph (2007)

setelah melalui penantian yang cukup lama dan diselingi oleh kekhawatiran akan terlewatnya film ini, akhirnya gue berhasil nonton film ini pas liburan kemarin gue balik ke Jakarta. kebetulan tanggal rilis film ini tepat beberapa hari setelah gue tiba di Jakarta. namun sayangnya kayaknya antusiasme para penikmat film Indonesia kurang begitu besar terhadap film ini. baru beberapa hari semenjak peluncurannya, film ini langsung turun layar di sebagian besar bioskop. beruntung gue masih sempat nonton di Blitz Megaplex.

pada dasarnya The Photograph bercerita tentang hubungan dua karakter teralienasi, antara seorang ibu muda bernama Sita yang merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai wanita tuna susila untuk menghidupi keluarganya di desa, dengan seorang fotografer perantau dari China bernama Johan yang terus dihantui masa lalu kelamnya, dan sedang pusing mencari penerus usahanya lantaran masa hidupnya yang tinggal tersisa beberapa waktu lagi.

melalui film ini, bisa disimpulkan bahwa dari sesuatu yang sederhana dapat diciptakan sebuah mahakarya yang hampir sempurna. dari sebuah cerita yang sederhana dapat dikembangkan menjadi sebuah film dengan kualitas teknik yang patut diacungi jempol. sinematografi yang luar biasa menjadi tolok-ukur keberhasilan film ini, selain penampilan terbaik Shanty sebagai Sita, dan aktor Singapura Lim Kay Tong sebagai Johan.

namun sayangnya, terdapat beberapa aspek yang kurang berhasil dan seharusnya bisa dihindarkan, seperti adegan audisi pemilihan fotografer baru yang bermaksud lucu, tapi malah terkesan maksa. juga, chemistry antara Shanty dan Lim Kay Tong di film ini kurang begitu terasa. barangkali karena bahasa Indonesia Lim Kay Tong yang terbata-bata. namun secara individu hal itu malah memperkuat karakter Johan yang misterius, dan Lim Kay Tong adalah aktor watak yang sangat berbakat untuk itu.

secara keseluruhan, film yang didukung juga oleh Lukman Sardi dan duet Indy Barends - Indra Bekti ini pantas mendapatkan tempat di hati para pencinta film Indonesia, terlepas dari beberapa aspek yang kurang berhasil tadi. film ini memberikan kesan melankolis, namun tidak cengeng. bravo untuk Nan Achnas!

Pemain: Shanty, Lim Kay Tong, Lukman Sardi, Indy Barends
Penulis & Sutradara: Nan Achnas

Negara: Indonesia
Durasi: 95 menit

read more...

Saturday, August 4, 2007

Plaza Senayan XXI

karena kedua entry terakhir sebelumnya dirasa terlalu baku, kali ini gue pake bahasa yang ringan aja.

kali ini gue berkunjung ke Plaza Senayan XXI, bioskop terbaru yang terletak di Plaza Senayan, salah satu mal eksklusif di bilangan Jakarta Selatan. sebelumnya Plaza Senayan sudah memiliki bioskop bernama Senayan 21, namun seiring berjalannya waktu dan bersamaan dengan kemunculan Blitz Megaplex, pihak 21 mengantisipasi hal ini dengan merenovasi bioskop ini menjadi sebuah bioskop yang lebih berkelas, yang memakan waktu selama kurang lebih 7 bulan.

sebelumnya Senayan 21 memiliki 6 buah studio reguler dan sebuah studio Premiere. kini, setelah merombak habis sebagian gedung parkir Plaza Senayan, Plaza Senayan XXI dibangun ulang dengan nuansa desain dan kesan yang berbeda, dengan 8 buah studio deluxe dan 2 buah studio Premiere.

desain interiornya dibuat sama seperti XXI lainnya, dengan dominasi kayu dan penerangan temaram. hal ini menimbulkan kesan eksklusif dan mahal. terus terang gue lebih suka desain seperti ini, ketimbang Blitz Megaplex yang kesannya berantakan abis.

meskipun ide klasik mendominasi bioskop ini, ternyata kesan futuristik juga dapet tertangkap begitu kita naik eskalator dan bersiap masuk ke dalam lobby. sepuluh buah layar LCD dipajang berderet, menampilkan poster film yang sedang diputar dan yang akan datang. tidak hanya itu, di dalam lobby pun beberapa layar LCD besar menghiasi seisi ruangan dan loket untuk menampilkan jadwal film yang diputar dan trailer-trailer. untuk ini, istilah state-of-the-art memang benar-benar patut disandang bioskop ini.

namun sayangnya, Plaza Senayan XXI belum mengadaptasi design kursi yang digunakan Studio XXI, cabang XXI pertama di Jakarta. tidak seperti pendahulunya yang menggunakan sofa empuk di semua studionya itu, Plaza Senayan XXI masih menggunakan desain kursi yang sama seperti XXI reguler lainnya, seperti di Senayan City, Anggrek, Gading, dan lain-lain. meskipun demikian, bisa dibilang kursi XXI ini masih lebih nyaman dibandingkan Blitz, dengan sandaran yang cukup lebar dan bahan yang cukup empuk.

beralih ke sound dan ukuran studio, liburan kemarin gue berkesempatan nonton di Plaza Senayan sebanyak 2 kali, untuk Harry Potter 5 dan Selamanya. untuk Harry Potter, kebetulan gue dapet studio 2, salah satu yang terbesar di sana. kesan pertama gue adalah, lumayan besar, namun kurang begitu nyaman karena jarak antar kursi kurang curam dan lega, sehingga terasa agak sempit untuk pergerakan kaki kita. namun salut untuk sound, karena studio ini sudah bersertifikat THX, yang berarti kualitasnya tidak perlu diragukan lagi. namun sayangnya, untuk film Selamanya, gue cuma dapet studio 8, yang termasuk studio terkecil di sana (temen gue sampe bilang studionya mirip Metromini). tingkat kecuraman dan kelegaan sama saja, minus sertifikat THX.

secara keseluruhan, kehadiran bioskop ini layak diacungi jempol, bukan hanya karena kenyamanannya, melainkan keberaniannya menyediakan 8 buah studio, salah satu yang terbanyak yang dimiliki oleh jaringan 21. gak hanya itu, untuk menyiasati fasilitas-fasilitas yang disediakan Blitz, Plaza Senayan XXI juga menyertakan smoking room dan the lounge untuk menambah kenyamanan para pengunjungnya. bahkan, kini di hampir semua cabang XXI mulai ditambahkan smoking room juga. memang buat memperbaiki sesuatu harus ada motivasi yang kuat seperti keberadaan Blitz.

lobby: 8/10
design: 8/10
suara: 9/10
kursi: 7.5/10
studio: 8/10

read more...

Thursday, August 2, 2007

Blitz Megaplex

Blitz Megaplex adalah salah satu bioskop terinovatif di Jakarta. bioskop ini baru saja disahkan sebagai bioskop terbesar setanah air oleh Museum Rekor Indonesia. letaknya yang berada di dalam gedung Grand Indonesia membuat Blitz selalu ramai dikunjungi. maklum, belum banyak yang bisa dilihat dari gedung ini, dan sebagian besar pengunjung adalah penonton Blitz.

liburan kemarin saya menyempatkan diri mengunjungi bioskop fenomenal ini sebanyak tiga kali untuk menonton film The Photograph, Alone, dan juga menghadiri workshop LA Lights Indie Movie.

kesan pertama saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di dalam gedung bioskop ini adalah megah dan mewah. bayangkan saja, meskipun sebagian besar ruangannya telah dipakai untuk 11 auditorium tetap saja lobby dan sekitar ruangan bioskop ini masih sungguh luar biasa luas.

nuansa putih dengan sebersit warna merah mendominasi seisi ruangan bioskop ini. konon kabarnya, alasan memakai warna ini adalah karena HSBC-lah sponsor utama pembangunan gedung bioskop tersebut. namun sangat disayangkan, saya kurang begitu tertarik dengan design bioskop ini, karena flownya kurang begitu teratur. di satu sisi, tiket box, candy bar, toilet, studio, beserta game center dan smoking lounge dibiarkan berdesakan, sementara di sisi lain dari eskalator hingga ruang tunggu di luar dibiarkan lapang begitu saja. menurut saya ini adalah sebuah pemborosan tempat.

sebetulnya keberanian pengelola Blitz Megaplex patut dipuji dalam mengucurkan dana sebegitu besarnya untuk gedung bioskop ini. empat buah proyektor dipasang untuk menayangkan trailer-trailer ke empat penjuru tembok gedung, dan juga puluhan layar LCD terpampang mengisi hampir seluruh tembok gedung ini untuk menayangkan jadwal film, poster, dan trailer. juga, dedikasi pengelola untuk kenyamanan para pengunjungnya pun patut diperhatikan juga. dari smoking lounge hingga berbagai sofa untuk menunggu pun disediakan di lobby. oh ya, hampir lupa, pop corn caramel sepertinya juga sudah menjadi trademark jajanan bioskop ini.

saya belum berkesempatan mencoba auditorium 1 dan 2 yang konon katanya adalah auditorium dan layar terbesar se-Indonesia, namun setelah mencoba beberapa auditorium regulernya, saya hanya bisa berpendapat bahwa kursi yang tersedia masih kurang begitu nyaman, meskipun kabarnya design kursi ini berasal dari kursi perusahaan mobil Eropa. sound system pun belum bersertifikat THX. meskipun demikian, saya cukup puas dengan tata cahaya dan sound yang tersedia karena bagaimanapun juga bioskop ini telah memberikan warna lain dalam dunia sinema Indonesia, setelah sekian lama dimonopoli oleh grup 21.

bioskop ini lebih tepat disebut sebagai one-stop entertainment center ketimbang movie theater itu sendiri, oleh karena fasilitas yang tersedia di sini lebih dari sekedar bioskop. bayangkan saja, di dalam gedung tersebut anda dapat menemukan kafe, smoking lounge, dan bahkan warnet dan gamesphere yang menyediakan X-BOX 360 console.

kesimpulannya, kemunculan bioskop ini patut diperhitungkan, oleh karena selain memberi warna baru dalam blantika sinema Indonesia, para pecinta film juga memiliki alternatif tempat menonton baru dan film-film yang lebih beragam, oleh karena Blitz Megaplex tidak hanya menghadirkan film-film mainstream, melainkan jenis film lainnya yang sebelumnya hanya bisa kita saksikan lewat DVD enam ribuan, seperti film Asia dan arthouse. kini para penonton juga lebih dimanjakan lagi dengan cara pembelian tiket lewat internet, selain dengan Blitz Card yang baru saja diperkenalkan beberapa waktu lalu.

lobby: 7/10
design: 9/10
suara: 8/10
kursi: 7/10
auditorium: 9/10

read more...

Monday, June 25, 2007

Too Perfect for a Labyrinth

usually fantasy films are something I should avoid. even the Lord of the Rings trilogy made me sleep during each screenings (no rotten eggs throwing on me please). however, this wonderfully crafted pieces of art is a different story. Pan's Labyrinth is simply beautiful, and I couldn't even get my eyes off my laptop screen during watching.

Pan's Labyrinth is a perfect combination of a dark fairy-tale with a realistic post-war event. it is well-supported with a nice cinematography all over the film, fantastic each character developments, great CGI effects, perfect production design, and even the soundtracks. simply said, the relationship between the mise-en-scene with the storyline is just too good to be true. no wonder this film has won plenty awards out there, including the high prestige Academy Awards for its cinematography, make-up, and art direction.

Pan's Labyrinth tells a story of a fairy-tale believer Ofelia, who travels with her pregnant mother to meet her stepfather. that dreaming about living in a fairy-tale world suddenly come true when she discovers that she is actually a princess called Moanna, and she has to do certain tasks before the full-moon to get her kingdom back. the whole story takes place in the event of 1944 post-civil war in Spain.

another spectacular aspect you wouldn't let it off your brain when you see it is the looks of the creatures; they are simply unforgettable. you must see the look of the faun, the fairies, and even the child-eating monster. they are different than any other creatures we have seen in films. special funny note for the child-eating monster, when I saw his eyes on his hands and he looked around by putting up his hands in front of his pale face, I just simply thought of that ridiculous 'peek-a-boo!' thingy that most mothers usually do to tease their young babies, and a used-to-be-child-singer cheap whore called Maissy did in her TV program, 'Ci-Luk-Ba!' (same meaning as peek-a-boo, but different sense if done by a tasteless tramp), produced by her rich dad in those sickening old days.

it's a shame that I missed the screening of this film during Jakarta International Film Festival last year, because this film is better watched on the big screen. however, looks like that 21 Cinema is going to screen it and I might watch it for the second time when I'm in Indonesia.

final words to finish this entry, kudos to Guillermo del Torro!

Cast: Ivana Baquero, Doug Jones, Sergi Lopez
Writer & Director: Guillermo del Torro
Country: Spain
Runtime: 112 min.

read more...

Sunday, June 24, 2007

L for Lame

I don't know what the hype of Death Note is all about that I must follow my curiosity and watch the film at last, resulting in a big disappointment that I wish I could put my name onto the book myself and die. at least certain people that talk about this film at all times will be aware of their own lives, as watching this film may cause sudden death.

basically, this film follows the discovery of a book called "Death Note" by a high school student named Light Yagami. soon, he finds out that he can kill any people by writing their names onto the book. not only that, he can also create the scenarios for each deaths. immediately the number of sudden death cases in Japan increases and this attracts the International Police Organization and a mysterious detective called L (you'll be surprised when you see the appearance of this L. like I said, L is for 'Lame'). as usual, for the rest of the story, just google or wikipedia it, or even watch it yourself.

actually the theme of this film (or should I say manga for the source of the adaptation) is brilliant. I like it at the first place when I read the story; a boy making a pact with the devil, a book that can kill people, the competition between the two opposite sides, and don't forget the betrayal (warning for this!). however, the execution itself ruins the whole thing. the unstructured plot, the annoying jump-cuts, the comical hyperbolic characters, the not-so-cinematic views (yeah, the cinematography sucks!), and the appearance of the death god Ryuk complete the destruction. without the appearance of the death god this film might be better. that creature reduces the level of maturity of this film, and it sends me back into the era when Ultraman, Mighty Morphin Power Rangers, and Black Masker Rider were my everyday must-sees.

some unreasonable aspects in this film also made me difficult to digest the whole concept. is it usual in Japan that we can find a mini-TV as a bonus inside a potato chips packaging?
(of course I know that little prick put the TV himself. I'm saying this in a sarcastic way, you morons!) or even how come Light's father doesn't allow his own son to investigate the case, where he as one of the respectable police instructor put his trust to a weirdo, desserts-freak, so-called detective L(ame)?

even so, this film still has some unforgettable morals in it. we can see how worthless our lives can be; put a name into the book, that people dies suddenly, big shit! you don't have to be careful in your lives as you can die that easy (I think Indonesia needs the book more than Japan, and not only one, but hundreds exemplars!). or even another thing, you gotta find out what your lover's activities in every single details, so that he/she will not get any chance to have an affair and finally create a very neat plan to kill you.

final words, this film has the second part entitled Death Note the Last Name that I haven't watched (luckily it wasn't named Death Note: Nama Ditulis, Mati Lagi Satu, Polisi Nyari Pelakunya, Gak Ketemu! Tolol Deh Itu Polisi!). and if you freaks can't get enough of this film, there are the original manga you can read and a 37-episodes anime to watch. but frankly said, watching this film saves your lives more than watching any of Indonesian cults (Hidayah: Mayat Membusuk Di Kali, Anak Durhaka Mati Merana, etc).

Cast: Tatsuya Fujiwara, Ken'ichi Matsuyama, Shido Nakamura.
Director: Shusuke Kaneko
Country: Japan
Runtime: 126 min.

read more...

Monday, June 18, 2007

Addicted to 'Camomile'

when one of my online friends told me about Emi Fujita, I could only come up with one simple question, 'who the hell is that?'. but after a while listening to one of her songs for the first time, that question simply became one little solid phrase, 'good as hell!'. I couldn't even explain my mixed-up feelings at that time listening to those audiophiles! the only bit dissapointment is her English pronunciation, which is not as solid as her voice, but it is still acceptable, concerning that she's not a native speaker.

for those who don't have any idea of who Emi Fujita is, she is a Japanese singer and the Camomile Series are just a bit of what she has done so far. a lot more about her, you can just wikipedia it.

basically, Camomile Series features a lot of popular western songs and most of them are oldies. so far there are already three Camomile albums, including Camomile (2001), Camomile Blend (2003), and Camomile Classics (2006). I've only listened to the first two and all tracks are fantastic! every one of them pulls me out of my hollowness and brings me into different kinds of peace, every time I go through each songs.

if you are a fan of either Fields of Gold, Unchained Melody, In My Life, or even The Corrs' Runaway and Sting's Every Breath You Take, this series of albums is definitely for you. even though most songs are categorized as oldies, it doesn't mean you have to grow your white hair first to enjoy those.

alright then, I'm not gonna continue this chitchat thingy about how good my life is having Emi Fujita as one of my favorite singers. you don't need to be encouraged to describe how good she is, because she is already almost perfect without having you to admit it.

so now I'm gonna prepare my sleep because it's 6 AM already. of course it's including listening through the whole albums all over again for my peaceful rest.

read more...